Hikmah di balik kegagalan

Strees rasanya waktu dengar dosen pembimbing mata kuliah Seminar bilang “kayaknya kamu belum bisa sidang semester ini….” waduh rasanya dunia runtuh seketika (sok puitis nih…)gimana nggak..secara udah dua semester disusun dengan susah payah dan selesai pula, eh… malah ditolak sama dosen pembimbing gara-gara jarang asistensi(entah sentimen atau dendam pribadi). berita buruk ini otomatis membuatku tak bisa skripsi semester 8 karena belum bisa tutup teori, padahal udah tekad dari awal kuliah, kalo kuliah kudu lulus dalam 4 tahun. jadilah sekarang aku harus nulis lagi dari awal dengan judul yang beda karena batas penulisan Seminar untuk judul yang sama, maksimal 2 semester. Nasib…nasib..mau protes…susah, mau marah….salah sendiri.

Sebenarnya tak hanya gagal Seminar yang membuatku tak  bisa tutup teori supaya bisa skripsi, laporan kerja praktek ku pun belum selesai dibuat. Rasanya memang inilah semester paling mengerikan buatku. ip semesterku pun cuma satu koma, untunglah ipk masih di atas tiga. ntah kenapa bisa jadi begini, aku benar-benar stress dibuatnya. Untunglah banyak teman-teman yang senantiasa menyemangati dan bilang kalo semua ini pasti ada hikmahnya. ntah benar atau cuma menghibur aku tak tau.

Bingung mengobati rasa strees, akhirnya kulampiaskan dengan ikut berbagai kegiatan organisasi dan pelatihan di kampus. Daripada lari ke hal-hal negatif yang bisa bikin polisi dan malaikat maut terus mengejar, kan lebih baik ikut kegiatan organisasi yang konstruktif.

Akhirnya, semester 8 pun tiba, di saat teman-teman seangkatan dah pada buat skripsi (ndak semua sih), aku justru sibuk dengan mata kuliah Seminar dan Kerja Praktek dengan judul baru karena masih trauma dengan judul yang lama.
Untuk mata kuliah Seminar sih alhamdulillah lancar dan tidak ada hambatan yang berarti walaupun hampir tiap hari harus asistensi (tepatnya setor muka) biar ndak jadi alasan dosen untuk menggagalkan Seminar untuk yang kedua kalinya. Kali ini pun Kerja Praktek yang aku lakukan berbeda dari yang sebelumnya. kalo dulu kerja praktek-ku mengevaluasi bangunan yang sudah berdiri, kali ini aku ikut penelitian yang sedang dilakukan salah satu dosenku.

Untuk Seminar sih ndak ada cerita yang luar  biasa, semua berjalan begitu saja tanpa ada hal baru yang benar-benar menarik buatku. Lain halnya dengan Kerja Praktek, terlibat dalam sebuah penelitian ternyata sangat menarik dan menambah wawasanku. Banyak hal baru yang ku dapatkan, mulai dari cara untuk berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenal, cara berfikir ala peneliti, hingga praktek langsung meneliti. Dari sini juga aku tau dimana potensiku sebagai arsitek berada. Jujur saja selama ini (7 semester) aku masih bingung apa sebenarnya potensi dan spesifikasi ilmu yang aku miliki, karena rasanya semua standar-standar saja. Tapi setelah ikut penelitian, aku jadi suka dengan yang namanya neliti. Aku selalu mencoba untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang orang kebanyakan (cieee….tapi ini serius sodara-sodara..!!!)

Walaupun kegiatan penelitian ini secara fisik memang menguras energi, tapi aku sangat enjoy dan bersemangat. Hal ini tak lepas dari peran dosen pembimbing Kerja Praktek-ku yang sangat inspiratif dan memotivasiku dalam menggali potensiku sebagai calon peneliti. Tak hanya itu, dari dosen tersebut aku juga  dapat banyak ide untuk penelitian yang bisa aku lakukan saat skripsi nanti bahkan untuk thesis kalo aku lanjut S2 (insyaAllah). Mungkin inilah hikmah dari kegagalan seminar dan kerja praktek semester lalu. Kalo kedua mata kuliah itu selesai semester sebelumnya, tentu aku tak akan bisa ikut penelitian dengan dosen yang sekarang karena harus ngerjakan skripsi yang aku belum tau mau ambil judul apa sebelumnya.

Selain banyak ilmu dalam meneliti yang kudapatkan dari dosenku, aku juga banyak mendapat info tentang beasiswa S2 di luar negeri, khususnya Jepang. Wow… padahal belum pernah terfikir sebelumnya untuk lanjut S2 sampai ke sana. Dari beliau aku tau step-step yang harus aku lakukan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Mulai dari cara kontak profesor di jepang, buat proposal penelitian (research planning), hingga tips-tips khusus yang penting buatku. Belakangan aku tau bahwa beliau juga sudah diterima S3 di jepang dan akan berangkat awal tahun depan. Pantesan beliau tau benar cara ngurusin tuh beasiswa.

Rupanya memang semua yang kita dapat adalah yang terbaik buat kita karena sesungguhnya Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya walaupun itu terlihat sangat tidak menyenangkan di awal. Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak mampu ditanggung oleh hambaNya.

Man_Albanjari

4 Comments »

  1. riefrezti said

    Thats true…
    Selalu ada hikmah di setiap kejadian..
    Klo ada tips u/ belajar dijepang bagi bagi dunk…
    coz.. I think its originaly alias langsung dari pengalaman..
    Keep going what u have believe… Cheer up!

  2. sangprabo said

    Assalaamu’alaikum
    Sip Man. Kata Pak Nana, hikmah ketahuannya belakangan.😀

    Oia, ini aq online dari warnet, sekalian cari cara biar bisa ngonekin Ubuntu pake telkomnet instan. Ntar klo aku dapet info soal beasiswa Jepang, insya Allah segera aku kabari..

    Semangat? Teteep….

  3. manalbanjari said

    Wa’alaikum salam
    Aku tunggu kabar selanjutnya…
    jzk

  4. azh said

    allo rahman….dejavu aku bacenye….he

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: