Good Father

Hari masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi ketika aku bersama temanku Wahyu berangkat menuju sebuah pabrik sawit di kecamatan Ambawang. Ini merupakan keberangkatan kami untuk yang ketiga kalinya ke sana setelah berhari-hari menunggu kabar yang tak kunjung datang dari humas pabrik tersebut mengenai permohonan kami untuk mengambil sampel limbah padat di pabrik mereka. Jika biasanya aku berangkat hanya bersama Wahyu, kali ini kami ditemani dosen pembimbing Kerja Praktek yang biasanya cuma mau tau beres padahal yang butuh material siapa yang jadi korban siapa. Keikutsertaan beliau kali ini adalah hasil ’kerja keras’ kami membujuk beliau agar ikut serta dalam menghadapi orang pabrik yang ’lucu-lucu’. Kalau ditanya lucu kenapa, ya memang ’lucu’. Tapi ini bukan satu-satunya alasan kami mengajak serta beliau, karena sebenarnya kami juga ingin ’berbagi rasa’ dengan beliau akan ’nikmatnya’ perjalanan ke sana. Tentu tujuan terakhir ini tak mungkin kami utarakan ke beliau, karena kami ingin mendengar komentar pertamanya saat tiba di tujuan.

Aku dan Wahyu berangkat dengan berboncengan, sedangkan dosenku mengendarai motornya sendirian. Aku dan Wahyu menggunakan kaos oblong dan celana lapangan sedangkan dosenku berpakaian bak hendak keundangan sidang MPR saking rapinya, masker dari slayer yang membuatnya seperti koboy di film-film luar negeri jaman baheula, plus sarung tangan warna-warni yang semakin menambah imut beliau. Aku rasa semua ini tak lepas dari sentuhan kasih istri beliau yang tak ingin seekor kadal pun menyentuh kulit sang arjuna yang sebenarnya tak mulus juga tak putih-putih amat, padahal kalau saja dia tau medan yang akan dihadapi, niscaya baju buruh bangunan akan terasa lebih rapi buatnya.

Awal keberangkatan masih lancar-lancar saja. Petualangan sesungguhnya dimulai saat memasuki gerbang kecamatan Ambawang. Perjalanan yang sebenarnya memakan waktu sekitar 15 menit, menjadi dua kali lipatnya karena rusaknya jalan. Lubang-lubang besar ’menganga’ di mana-mana siap menerima ’kehadiran’ kami, belum lagi genangan air bak samudra akibat hujan lebat semalam membuat kami was-was dalam memilih jalan, takut terperosok, ditambah lagi permukaan jalan yang bergelombang ndak jelas membuat tubuh kami terguncang keras seakan hendak menguras isi perut dan membuat tulang menjadi padat karena hentakan dahsyatnya. Mungkin ini yang menyebabkan tinggi badanku turun, soalnya waktu beberapa bulan lalu, tinggi badanku 169 cm, eh waktu aku ukur lagi sepulang dari pabrik minggu lalu, tinggi badanku cuma 168,5 cm. Entah memang benar demikian atau kawanku yang salah ukur, yang jelas tinggi badanku sekarang cuma 168,5 cm. Untunglah aku tak perlu mengganti SIM C akibat perubahan tinggi badanku, wong tahun lahir aja di tua-tuain supaya bisa dapat SIM.

Kalau saja tak ingat ini tugas KP yang memang mau tak mau dilaksanakan. Kalau saja tak ingat yang minta KP dengan dosen ini, aku sendiri. Kalau saja tak ingat…ingat apa ya…? oh ternyata memang aku tak ingat lagi alasan-alasan lainnya. Kalau saja tak ingat semua itu, pasti sudah kutinggalkan ’kerja gila’ ini.

Sesampainya di tujuan, badan rasanya mau rontok saking capeknya. Kalau saja tangan, kaki, perut, sampai pantat bisa ngomong, pasti sudah caci maki yang kuterima akibat membawa meraka ke ’medan perang’ yang tak akan membawa kemenangan ini. Tapi untunglah Allah hanya ’mengizinkan’ mereka berbicara setelah manusia mati. Seperti yang sudah aku dan Wahyu duga, komentar pertama yang terucap dari bibir dosenku adalah ”Wah lumayan juga jalannya, kalau baru makan nasi, pasti keluar semua isi perut” katanya. Aku dan Wahyu hanya senyum mendengarnya, padahal dalam hati tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.

Kami langsung menuju pos satpam untuk meminta izin bertemu humas di sana yang sebelumnya telah kami surati tapi tak jua ada kejelasan nasib soal permintaan tujuan kami ke sana. Malang tak dapat ditolak, rugi kayaknya yang diraih. Humas ternyata sedang ke Medan dan baru pulang dua hari lagi. Tak ingin perjuangan kami menjadi sia-sia, dosenku langsung meminta izin bertemu ’pejabat’ pabrik yang bisa memberikan jawaban atas permintaan kami untuk mengambil sampel limbah sawit sebanyak yang kami perlukan. Namun, oleh satpam kami dihubungkan dengan humas via telepon dan hasil negosiasi kami hanya diperbolehkan mengambil limbah sebanyak 5 karung dengan diawasi satpam saat pengambilan. Akhirnya kami membeli karung di warung dekat pabrik. Kami tidak membeli 5 karung tapi 10 karung, sudah gitu ukuran 100 kg pula, alasannya sih untuk jaga-jaga, siapa tau bocor di tengah jalan. Kami pun mulai menuju lokasi pengambilan limbah dengan membawa karung dan sekop yang dipinjam di lokasi beserta 3 orang ’bala bantuan’ buruh pabrik yang ternyata ketiga orang berpakaian buruh tersebut adalah para gadis usia 20an. Dalam hati aku tersentak, bagaimana mungkin perempuan seperti mereka harus bekerja di pabrik yang seharusnya dikerjakan oleh para lelaki. Tak kalah kagetnya aku saat melihat ’keperkasaan’ mereka memasukkan limbah pabrik yang berupa bongkahan batu ke dalam karung dengan sigap dan cekatan.

Sementara kami memasukkan limbah tersebut ke karung, dosenku pergi mencari kendaraan untuk membawa limbah tersebut ke Pontianak. Saat proses pengepakan, datang seorang laki-laki separuh baya yang belakangan kuketahui bahwa ia merupakan ’orang penting’ di pabrik. Setelah berdialog singkat, sungguh di luar dugaan, sang bapak dengan ramahnya menyuruh kami mengambil limbah sebanyak yang kami butuhkan. Kesempatan ini tak kami sia-siakan, kami pun langsung bekerja dengan senangnya, dihiasi senyum sinis si satpam yang sedari tadi mengawasi kami supaya tidak mengambil limbah lebih dari 5 karung. Setelah selesai pengepakan, sang bapak yang baik hati tadi pun pergi meninggalkan kami setelah sebelumnya ribuan terima kasih kami ucapkan atas kebaikan hatinya. Sungguh baik bapak tersebut, selain jabatannya yang tinggi, hatinya pun mulia. Tak seperti si satpam yang sok-sok berkuasa. Pengepakanpun selesai, setelah kami hitung jumlah karung, ternyata jumlah semua hanya 8 karung, padahal kami membeli 10 karung. Aku sempat berfikir bahwa Wahyu yang salah hitung jumlah karung saat membeli, ternyata di salah satu sudut tempat kami berada, 2 buah karung terselip rapi di antara dua buah benda seolah-olah sengaja disembunyikan oleh seseorang. Fikiran kami langsung tertuju pada satpam yang dari tadi mengawasi kami dengan seriusnya. Entah benar atau tidak kami tak tau, yang jelas si bapak baik hati sudah tak berada di tengah-tengah kami, kamipun tak berani mengambil limbah lagi guna mengisi 2 karung yang tersisa. Alhasil, kamipun pulang membawa 8 karung dengan menggunakan oplet yang disewa oleh dosen kami.

Aku pulang dengan ikut bersama oplet yang membawa limbah, sementara Wahyu dan dosenku pulang dengan mengendarai motor masing-masing. Dialog antara aku dan supir oplet pun tak bisa dielakkan. Jadilah perjalanan tersebut ajang diskusi kami untuk mengisi perjalanan yang ’luar biasa’ ini. Aku pun memulai dialog dengan bertanya seputar profesinya sebagai supir oplet di daerah yang ’mengerikan’ ini. Tak jarang akupun memuji kesabarannya dalam bekerja dengan trayek yang sepi dan kondisi jalan yang tragis. Si supirpun cerita bahwa penghasilannya tak jarang justru tak menutupi biaya bahan bakar yang dikeluarkannya. Aku sungguh kasihan mendengar ceritanya. Setelah bercerita panjang lebar, akupun memberanikan diri untuk bertanya tentang keluarganya. Akhirnya akupun tau bahwa ia memiliki 4 orang anak laki-laki, sulung duduk di bangku Tsanawiyah, anak ke-2 dan ke-3 duduk di SD negeri, dan si bungsu belum sekolah. Saat mendengar bahwa si sulung sekolah di tsanawiyah, akupun bertanya ”Pak, tsanawiyah kan biayanya mahal? Kenapa ndak di sekolah negeri ja’ biar lebih murah?” ia pun menjawab ”Saye sengaje sekolahkan anak saye di sekolah agama supaya iman dan akhlaknye bagus, untok masalah biaye sih memang mahal tapi untok kebaikan anak, ndak apelah, lagipun die anak pertame, harus jadi contoh dan membimbing adek-adeknye” sungguh jawaban yang bijak dan membuat hatiku haru. Seorang supir oplet dengan penghasilan yang minim, rela menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal asalkan anaknya terdidik dengan baik dan agamis. Sungguh sangat berbeda dengan kebanyakan orang tua yang memilih sekolah untuk anaknya dengan lebih memperhatikan kualitas ilmu dunia bahkan tak jarang demi gengsi semata ketimbang pendidikan spiritual anak mereka.

Setelah perjalanan singkat tersebut, aku mendapat pelajaran yang sangat berharga. Seorang supir oplet bisa begitu sabarnya dalam bekerja meski penghasil yang diterimanya sangat kecil bahkan kadang tidak mencukupi sementara aku penuh dengan kedongkolan dan keluh kesah sepanjang perjalanan ke pabrik padahal cuma beberapa kali saja sedangkan supir oplet tersebut tiap harinya harus bolak-balik jalan tersebut untuk mencari penumpang. Selain itu, ia juga begitu mengedepankan pendidikan agama di atas ilmu dunia. Ia begitu menyadari bahwa harta yang sesungguhnya adalah yang dinafkahkan di jalan agama sementara aku sering berfikir berulang kali dalam membelanjakan harta terlebih-lebih untuk sedekah.

Ya Allah terima kasih atas rencanaMu yang indah, yang mempertemukanku dengan seorang umatmu yang sabar dan mengedepankan dienMu di atas segalanya.

By : Man_albanjari

1 Comment »

  1. riefrezti said

    Sungguh perjalan yang sangat “panjang. mengharukan, menjengkelkan, tragis juga” tapi… penuh makna, indah dan melankolis…
    Bagi insan sungguh sudah seharusnya kita ini dapat bersyukur atas apa yg telah kita miliki…
    Tapi begitulah manusia tak pernah puas dengan apa yang mereka milki (mungkin udah bawaan dari sana kali ya… )

    Tetep menulis..n keluarin cerita lain yang lebih “mengetarkan ” qolbu…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: